Pilkada Rasa Daging

Rakyat Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) serentak di beberapa daerah pada tahun 2017. Salah satunya adalah Pilkada di Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang memiliki tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur [1], yaitu: 1. Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, 2. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, dan 3. Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno. Pilkada DKI Jakarta merupakan Pilkada yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat dan media massa sehingga mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa Pilkada DKI Jakarta merupakan Pilkada rasa Pilpres (Pemilihan Umum Presiden)[2]. Kalau menurut pendapat saya, Pilkada DKI Jakarta merupakan Pilkada rasa daging.

Mengapa saya sebut demikian? Saya melihat dari sudut pandang diri saya sebagai warga DKI Jakarta dalam Pilkada DKI Jakarta ini seperti hendak memilih makanan berbahan dasar daging. Makanan yang saya butuhkan bukan sekedar untuk mengisi perut tetapi juga menyambung hidup, memuaskan selera makan, dan harus sesuai dengan batasan/aturan makan saya. Menu tersaji yang dapat saya pilih adalah makanan berbahan dasar: 1. Daging Sapi, 2. Daging Babi, atau 3. Daging Kambing. Mau diolah sedemikian rupa, bahan utamanya adalah salah satu dari ketiga daging ini.

Daging sapi merupakan daging yang secara umum paling banyak dijual di Indonesia, bahkan kita sampai perlu impor sapi untuk memenuhi kebutuhan daging nasional. Daging sapi dapat diolah menjadi banyak menu favorit masyarakat dan banyak yang cocok dengan rasanya. Akan tetapi, ada masyarakat yang tidak makan daging sapi misalnya umat Hindu. Sapi dalam ajaran Agama Hindu merupakan hewan yang suci [3]. Kita semua wajib menghargai ini dan tidak boleh ada seseorang (misalnya seorang penjual bakso sapi yang kebetulan berjualan di daerah mayoritas umat Hindu) mengatakan bahwa mereka dibohongi oleh ajaran agama mereka atau dibohongi oleh pemuka agama mereka perihal memakan daging sapi.

Menurut sahabat saya yang makan daging babi, ini adalah daging yang rasanya paling enak. Meskipun saya belum pernah mencicipinya, saya percaya hal itu karena saya berpikir kalau lemak/minyak babi yang dicampurkan ke makanan saja sering dikatakan dapat membuat makanan menjadi lezat, apalagi dagingnya? Pasti lezat sekali. Meskipun demikian, tidak semua orang dapat makan daging babi. Agama Islam melarang umat muslim untuk memilih daging babi sebagai pilihan makanannya [4].

Di Indonesia, menjual makanan berbahan daging babi merupakan hak setiap warga, meskipun masyarakatnya mayoritas muslim. Di sinilah kita memerlukan Label Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengingatkan dan menjaga umat muslim dari makanan-makanan haram seperti daging babi. Pedagang daging babi juga tidak boleh mengatakan bahwa ajaran Agama Islam atau ulamanya berbohong dengan ayat tersebut karena takut dagangan berbahan daging babinya tidak laku. Mereka tidak boleh memaksakan kehendak dan menyebarkan propaganda bahwa orang yang pilih makan daging babi itu orang-orang rasional/cerdas karena rasanya terbukti paling enak dan yang tidak makan daging itu tidak rasional/bodoh karena mengikuti keyakinan mereka ketimbang bukti rasa enaknya.

Daging kambing merupakan daging yang juga sering kita temui sebagai bahan makanan di Indonesia. Biasanya diolah menjadi sate, nasi kebuli, kambing guling, dan lainnya. Rasanya enak dan menjadi favorit banyak orang seperti daging sapi. Hal ini tidak berarti semua orang bisa makan daging kambing. Daging kambing merupakan pantangan untuk orang-orang yang memiliki riwayat penyakit darah tinggi, kolesterol, dan beberapa penyakit lainnya. Kita tidak boleh memaksakan mereka untuk makan daging kambing karena dapat memperparah penyakit yang mereka derita.

Apapun pilihan daging yang akan kita makan nanti tentu harus dapat kita pertanggungjawabkan masing-masing. Tanggung jawab terhadap diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Hal yang sama berlaku kepada mereka yang memilih menjadi vegetarian karena meyakini bahwa semua jenis daging itu tidak baik, jahat, dan merusak. Setiap pilihan untuk memilih atau tidak memilih ada konsekuensinya [5] [6]. Marilah peduli dan cintai diri kita, keluarga, lingkungan, dan negara kita. Rakyat Indonesia patut bersyukur karena tidak atau belum mengalami apa yang terjadi di negara-negara yang sedang berkonflik saat ini. Semoga Indonesia tidak jatuh dalam konflik atau jatuh dalam genggaman pemimpin Otoriter Gila. Merdeka! [7]
# Didedikasikan untuk sahabat saya Bopung sesama mantan relawan yang sedang galau. Golput itu bukan elu banget bro!
-D. Dwijo Kangko-
Pustakawan
Mantan Relawan Jakarta Baru (Jokowi-Ahok) 2012

Referensi
[1] http://kpujakarta.go.id/view_berita/pengumuman_nama_dan_nomor_urut_pasangan_calon_gubernur_dan_wakil_gubernur_dki_jakarta_tahun_2017
[2] http://news.liputan6.com/read/2609714/3-kandidat-di-pilkada-dki-rasa-pilpres
[3] http://www.kulkulbali.co/post.php?a=373&t=mengapa_orang_hindu_tidak_memakan_daging_sapi#.WBqKxftaczI
[4] https://rumaysho.com/13221-kenapa-babi-diciptakan-lantas-diharamkan.html
[5] https://www.youtube.com/watch?v=qQOyoeBKf5o
[6] https://www.youtube.com/watch?v=kP6DttvPZmk
[7] https://www.youtube.com/watch?v=dMSga7hLbYY