Resensi buku “Perpustakaan untuk Rakyat: Dialog Anak dan Bapak”

Judul Buku = Perpustakaan untuk Rakyat : Dialog Anak dan Bapak
Pengarang = Ratih Rahmawati dan Blasius Sudarsono
Penerbit = Sagung Seto, Jakarta
Tahun Terbit = 2012
Tebal Buku = 164 halaman

PUSAKA BAGI PERPUSTAKAAN DAN TAMAN BACA MASYARAKAT
————————————————–
Buku ini mencoba menyadarkan kita (kembali) bahwa rakyat memiliki hak yang perlu ditunaikan oleh perpustakaan dan taman baca(an) masyarakat (TBM). Dalam Undang-Undang Dasar 1945 dijelaskan bahwa salah satu tujuan kemerdekaan Indonesia adalah dalam rangka “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Di sinilah perpustakaan dan TBM mengambil peran. Lebih jauh lagi, melalui penyediaan informasi dan membuka peluang sebesar-besarnya bagi rakyat untuk memperoleh pendidikan, perpustakaan dan TBM berperan dalam “Memajukan kesejahteraan umum”. Peran perpustakaan dan TBM Tersebut bahkan dijabarkan lebih jauh lagi melalui Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007. Penulis berusaha memformulasikan suatu strategi untuk pemenuhan hak rakyat tersebut oleh perpustakaan dan TBM.

Dalam buku ini terdapat kata sambutan dari Kepala PDII-LIPI, Ir. Sri Hartinah, M.Si., dan pengantar dari Agus Rusmana yang memberikan gambaran umum isi buku. Layaknya sebuah drama, buku ini memiliki prolog dan pengenalan tokoh dibagian awal. Bagian berikutnya dimuai dengan dialog pertama antara sang bapak dan anaknya. Dalam dialog ini terjadi diskusi untuk memaknai perpustakaan dan TBM itu sendiri. Selain itu, dalam dialog ini pula turunnya mandat dari sang bapak kepada anaknya untuk turun langsung ke lapangan.

Lalu bagian berikutnya, ada laporan dari sang anak yang telah turun ke lapangan. Laporan ini membahas mengenai fenomena TBM di Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan ini pun dibahas oleh bapak dan anak dalam dialog kedua. Dalam dialog kedua ini juga dibahas mengenai konsep perpustakaan untuk rakyat. Di bagian berikutnya ada tulisan berjudul “Memaknai perpustakaan” yang ditulis oleh sang bapak. Dengan segala ilmu dan pengalamannya yang sudah banyak di dunia kepustakawanan Indonesia, sang bapak menjabarkan dengan begitu fasih mengenai fundamental perpustakaan, pembudayaan kegemaran membaca, Perpustakaan Nasional RI, dan profesi pustakawan. “Memaknai perpustakaan dilakukan dengan mencermati apa yang diamanatkan oleh UU 43, 2007” (Sudarsono, 2012: 118).

Lalu berikutnya adalah dialog ketiga. Dalam dialog ini, sang bapak dan anak mencoba membedah hal-hal apa saja yang mungkin diakukan oleh perpustakaan dan pustakawan agar dapat terciptanya perpustakaan untuk rakyat. Hasil dari dialog ketiga ini kemudian menjadi sebuah tulisan kolaborasi antara keduanya yang berjudul “Sinergi perpustakaan dan TBM”. Menurut mereka, sinergi antara perpustakaan dan TBM-lah yang diperlukan untuk merealisasikan konsep perpustakaan untuk rakyat dan tercapainya tujuan kemerdekaan “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Lebih lanjut lagi, dijelaskan pula bagaimana sinergi ini dapat berjalan. Sinergi ini akan berjalan baik apabila perpustakaan dan TBM memiliki kesadaran dan tujuan yang sama, yaitu menunaikan amanah UUD 45 dan UU 43 tahun 2007. Kemudian di bagian akhir buku ini ditutup dengan sebuah epilog mengenai perpustakaan untuk rakyat.

Penulis bereksperimentasi dalam penulisan buku ini. Gaya penulisan buku yang dibuat seperti sebuah drama membuat buku ini menarik. Akan tetapi sayangnya masih ditemukan kesalahan ejaan dan pengetikan dalam buku ini. Isi buku ini menawarkan sebuah konsep baru tentang terciptanya sistem layanan nasional perpustakaan dan langkah-langkah untuk merealisasikannya. Meskipun penulis sendiri mengakui bahwa konsep ini masihlah preliminer dan memerlukan penyempurnaan. Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh para pustakawan, calon pustakawan, peneliti dibiang perpustakaan dan informasi, maupun siapa saja yang berkaitan dengan dunia kepustakawanan dan pendidikan di Indonesia.

kolordwijo
Sumber: https://www.goodreads.com/review/show/859161326?utm_medium=api&utm_source=custom_widget