Mustakim: Meniti Langkah di Dunia Kepustakawanan Indonesia

Tokoh-tokoh besar sering kali berbagi kisah inspiratifnya kepada kita di berbagai media massa maupun buku. Mereka bercerita tentang bagaimana usaha mereka dalam menggapai kesuksesan dan dari kisah tersebut ada keteladanan yang dapat kita tiru. Akan tetapi, keteladanan tidak hanya dapat kita peroleh dari tokoh-tokoh besar saja namun juga dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Mustakim, atau yang biasa saya sapa Pak Mus, merupakan salah satu tokoh yang dapat memberikan keteladanan untuk saya.

SLIMSCOMMEET2014

SLIMSCOMMEET2014

Biodata:
Nama Lengkap : Mustakim
Nama Panggilan : Mus
Tempat/Tanggal Lahir: Purworejo, 21 September 1971
Pekerjaan : Staf Arsip dan Perpustakaan
Status : Menikah
Nama Pasangan : Muryani
Nama Anak : I. Lutfi Adhi Pratama /16 th
II. Faiza Suci Restyani/11 th
Alamat : Jatikramat, Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat
Pendidikan : D2 Ilmu Perpustakaan
Pengalaman Bekerja : Team Pelaksana Konsultan Arsip dan Perpustakaan 2009-2012
Hobi dan Prestasi : Volly, Sepeda Santai

Saya bertemu dengan Pak Mus pada tahun 2012. Kami berkenalan pada acara Belajar Bareng SLiMS atau BBS (Sinau Bareng versi Komunitas SLiMS Jabodetabek) pada bulan Agustus 2012 yang saat itu digelar di Binus University. BBS rutin diadakan sebagai ajang kopi darat dan sharing untuk para penggiat aplikasi Senayan Library Management System (SLiMS). BBS berlangsung di lokasi yang berbeda-beda setiap kali diadakan, tergantung kesepakatan komunitas dan kesediaan instansi yang ingin menjadi tuan rumah.

Selama ini, komunitas SLiMS identik dengan teknologi perpustakaan, gerakan perubahan, anak muda, dan energetic. Hal inilah yang membuat saya heran ketika melihat ada seorang bapak-bapak dalam acara Belajar Bareng SLiMS. “Ah paling BBS berikutnya gak bakal nongol-nongol lagi” begitulah pikir saya. Ternyata saya salah, secara rutin Pak Mus datang Belajar Bareng SLiMS dan bahkan tak jarang Pak Mus datang bersama anaknya. “Belajar sekalian jalan-jalan bareng anak” begitulah kata Pak Mus.

Pak Mus seakan memberikan saya contoh perihal konsistensi dan semangat belajar diusia yang tak lagi muda. Menurut saya sudah kodratnya kalau anak muda wara-wiri dan berkumpul di majelis ilmu bersama komunitas yang mereka minati. Akan tetapi, menjadi hal yang istimewa apabila ada orang yang sudah berumur masih bersemangat menuntut ilmu apalagi di komunitas yang usia anggotanya rata-rata lebih muda.

Kisah Pak Mus berkenalan dengan dunia kepustakawanan Indonesia juga cukup unik. Sebelum bekerja sebagai Staf Arsip dan Perpustakaan di sebuah perusahaan swasta seperti sekarang ini, Pak Mus sempat berganti-ganti pekerjaan. Pak mus pernah bekerja sebagai kurir, kolektor, staf gudang, sales, satpam, bahkan buruh bangunan. Menariknya, pengalaman pertama Pak Mus berkenalan dengan dunia kepustakawanan justru dengan upah yang lebih rendah dibandingkan dengan penghasilannya sebagai buruh bangunan. Awalnya, Pak Mus diajak bekerja di Konsultan Arsip dan Perpustakaan oleh sahabatnya. “Saya sebenarnya bimbang, bukan masalah masa depan atau peluang yang saya pertimbangkan, namun pendapatan yang ditawarkan lebih rendah dari buruh bangunan. Di sisi lain, sahabat saya sudah berulang kali menawarkan kepada saya. Saya melihat niat baiknya mau membantu dan membimbing saya untuk melihat peluang di dunia perpustakaan dan kearsipan.” begitu kata Pak Mus.

Pak Mus sempat merasakan keraguan pada awalnya. Dengan bermodalkan niat untuk memperbaiki keadaan keluarga dan berharap masa depan yang lebih baik, Pak Mus mengambil langkah untuk menerima ajakan sahabatnya untuk bekerja di Konsultan Arsip dan Perpustakaan. “Manusia wajib berusaha dan serahkan usaha kita pada-NYA.” begitulah keyakinan Pak Mus. Itulah cerita awal langkah Pak Mus di dunia kepustakawanan. Bagaimanakah langkah-langkah Pak Mus berikutnya? Berikut ini obrolan saya dengan Pak Mus:
1. Saya dengar Pak Mus sekarang kuliah ambil Jurusan Ilmu Perpustakaan, Bagaimana ceritanya hingga memutuskan untuk kuliah?
Bekerja sebagai pelaksana lapangan di Konsultan Arsip dan Perpustakaan tidaklah seperti yang saya bayangkan. Saat itu, saya hanya bermodalkan kemampuan mengoperasikan komputer. Awalnya, pekerjaan saya baru sebatas entry data, namun seiring waktu akhirnya dapat tugas untuk proses pengolahan informasi seperti mengabstrak, dan membuat klasifikasi. Latar belakang pendidikan saya tidak banyak membantu dan saya merasa sangat terbebani. Mas Riswanto selalu membimbing saya untuk hal itu, namun saya semakin terbebani. Semakin banyak yang tidak saya pahami baik proses maupun acuan bakunya bahkan sampai beliau memberikan berbagai buku untuk dipelajari.
Mas Riswanto mengajurkan untuk kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan di Universitas Terbuka. Lagi-lagi ini pilihan berat buat saya. Dengan pendapatan dibawah UMR, saya harus berbagi untuk keluarga dan kuliah. Ini terasa berat. Mas Riswanto memberi motivasi, “Memang untuk maju perlu pengorbanan, mumpung kebutuhan anak belum banyak” begitu saran Mas Riswanto. Meskipun dengan berat hati, saya mengambil keputusan untuk kuliah. Awalnya, perjuangan saya penuh tantangan moril dan materil. Bahkan keluarga dan kakak-kakakku sendiri tidak setuju. “Urip ojo ngoyo…” begitu pesan keluarga dan kakakku.
Ada rasa menjadi beban buat keluarga dengan kondisi dan keputusan yang saya ambil ini. Sampai-sampai saya berfikir bahwa waktu adalah uang sehingga pada hari libur terkadang apabila ada yang mengajak bekerja, saya jalani untuk menambah pendapatan. Semua saya jalani dengan harapan semua akan menjadi lebih baik dan mengurangi rasa bersalah saya atas keputusan yang saya ambil.

2. Bagaimana ceritanya sampai bisa kenal dengan SLiMS dan bergabung dalam kepengurusan komunitas SLiMS Jabodetabek?
Saya mengenal SLiMS pada tahun 2009 saat bekerja di Konsultan Arsip dan Perpustakaan. Saya hanya tahu sebatas sebagai aplikasi perpustakaan dan mampu sebatas entry data. Instalasi saja saya tidak paham. Ketika saya mampir di Perpustakaan Kementerian Kesehatan, saya ketemu dengan anak UI yang bekerja di sana. Kalau tidak salah namanya Mas Fauzi. Dia bercerita tentang SLiMS dan memberitahukan bahwa SLiMS ada grupnya di Facebook. Dari Facebook-lah saya mulai mengenal SLiMS lebih jauh, mulai dari instalasi sampai memodifikasi. Saya merasa benar-benar harus banyak belajar untuk mengenal SLIMS. Begitu ada acara belajar bareng gratis saya bersemangat karena gratisnya. Hehehe… Di Binus Senayan adalah kali pertama saya ikutan Belajar Bareng SLiMS. Sayangnya, acaranya sering diadakan di hari Sabtu, sedangkan saya tidak libur. Begitu belajar bareng saya minder juga, kok saya paling tua, nggak paham apa-apa, komputer juga gatek apalagi bahasa pemrograman. Saya tidak menyangka ternyata pengurusnya masih muda muda, Mas danang, Mas Dudu, Mas Azwar Muin, Mbak Tiwi. Lalu, saat ada kepengurusan baru saya diajak gabung di kepengurusan. Sebenarnya, tambah bingung lagi saya tapi ini jadi kesempatan buat saya juga untuk lebih mudah belajar dari teman-teman tentunya.

3. Apa motivasi Pak Mus gabung kepengurusan komunitas SLIMS Jabodetabek?
Saya ingin belajar dan termotivasi dengan teman-teman yang lebih muda.

4. Apa ada manfaat yang sudah dirasakan dari keaktifan dalam kepengurusan komunitas SLIMS Jabodetabek?
Silaturahmi dan tambah teman, belajar berorganisasi, belajar banyak hal, dan sangat menunjang kuliah dan pekerjaan.

5. Visi Pak Mus untuk pribadi maupun pekerjaan ke depannya apa nih?
Visi pribadi, saya sangat berharap masih bisa memperbaiki masa depan dan bisa jadi motivasi buat keluarga khususnya anak-anak. Untuk karir, saya sangat berharap bisa jadi pustakawan di dunia pendidikan dan menjadi bagian dari perkembangan dunia pendidikan khususnya peran pustakawannya.

6. Bagaimana peran keluarga dalam karir Pak Mus?
Keluarga adalah energi dan movitasi terindah. Apapun yang keluargaku lakukan bagiku adalah tantangan. Mungkin kata ini tidak tepat, bahkan mendiskreditkan. Namun itulah yang menjadi motivasi.

7. Siapa saja orang-orang yang menginspirasi Pak Mus selama ini?
Insipasiku adalah bapakku sendiri, meski sudah sepuh tetapi Beliau semangat belajarnya sangat tinggi. Keluargaku, Mas Riswanto, serta teman-teman komunitas SLIMS.

8. Ada yang mau disampaikan kepada kawan-kawan Pustakawan?
Seperti yang pernah disampaikan oleh Bapak Blasius Sudarsono, “Pustakawan adalah profesi dan kehormatan, mari perjuangkan ini.” Kita bisa maju bersama dengan saling memotivasi dan berbagi untuk menuju kesana.

Di usianya kini, Pak Mus masih belum mau berhenti belajar. Pak Mus memilih kegiatan belajar sebagai cara untuk beradaptasi. Seperti Teori Evolusi Darwin, “Bukan makhluk yang paling kuatlah yang mampu bertahan, melainkan makhluk yang paling mudah beradaptasi” dan Pak Mus tahu bahwa pengetahuan adalah senjata manusia untuk beradaptasi.

Pak Mus menganggap kegiatan belajarnya selama ini sebagai langkah-langkah kecil di dunia kepustakawanan. Meskipun “hanya” langkah-langkah kecil namun apabila kita terus melangkahkan kaki kita dan tidak berhenti pasti kita akan sampai pada tujuan. Saya melihat ada semangat dan konsistensi dalam langkah-langkanya tersebut. Semua itu diawali dengan niat yang baik dan Pak Mus tidak pernah menyesalinya “Saya tidak pernah menyesali langkah yang saya ambil selama berlandaskan niat untuk menjadi lebih baik. Niat ini selalu menjadi pegangan dalam perjalanan waktu sampai saat ini. Tantangan, rintangan dari situasi dan kondisi, semua saya kembali pada niat itu.”

-kolordwijo-
BLOG CONTEST SLIMS COMMEET 2014