Library Rockstars: Sang Pemerhati Kepustakawanan Indonesia

Blasius Sudarsono, nama ini saya kenal pertama kali pada tahun 2010. “Perkenalan” ini terjadi melalui sebuah tulisan berjudul “Perpustakaan Dua Titik Nol: Pengantar Pada Konsep Library 2.0” untuk keperluan penulisan skripsi saya. Pada saat itu, sosok Blasius Sudarsono yang terbayangkan di benak saya adalah seorang pustakawan muda, gagah dan energetic, hi-tech, cerdas, dan suka berbagi ilmu melalui menulis. Kesempatan bertemu dengannya baru terjadi pada tahun 2012 pada acara Kuliah Umum Terbuka yang digelarnya untuk pertama kali di PDII-LIPI.
Pada saat itu, alangkah terkejutnya saya. Ternyata sosok Blasius Sudarsono yang saya lihat mengisi acara tersebut adalah seorang pria bertubuh kecil dengan rambut yang sudah berwarna putih karena usia. “Kecele sama nama Blasius-nya dan topik library 2.0 yang ada di Visi Pustaka nih gw” pikir saya saat itu. Kesan saya terhadap sosok Blasius Sudarsono yang pertama kali saya lihat langsung setelah sebelumnya hanya dapat membayangkan melalui tulisannya pun berubah. Dari sosoknya yang kecil itu, saya dapat melihat kedalaman ilmu dan kebijaksanaan yang dimilikinya.
Fakta-fakta menarik yang mengejutkan berikutnya pun saya ketahui. Acara Kuliah Umum Terbuka ini merupakan rangkaian acara menjelang hari purna tugasnya. Pak Dar atau Pak Blas, begitu kini saya mengenalnya, pensiun sebagai Pustakawan Utama PDII-LIPI pada tanggal 1 Maret 2013. Acara tersebut dijadikan sarana berbagi pengalamannya selama menjadi pustakawan. Fakta berikutnya, ternyata Pak Dar pernah mengajar di Jurusan Ilmu Perpustakaan UI (atas permintaan Ibu Somadikarta, sejak 1981 – 1996) dan fotonya sering saya lihat terpampang di Laboratorium Perpustakaan JIP-UI.

kolordwijo-blasiussudarsono

kolordwijo-blasiussudarsono

Nama : Blasius Sudarsono
Lahir : 02 Februari1948
Pekerjaan: Pemerhati Kepustakawanan Indonesia (Pensiunan Pustakawan Utama PDII-LIPI)
Status : Menikah
Isteri : Maria Tatiek Hardiyati Sudarsono (almh.)
Anak : Bhenadetta Pravita Wahyuningtyas
Alamat : Jalan Tengah RT 001 RW 09, Kalurahan Kampung Tengah, Kecamatan Kramatjati, Jakarta.
Pendidikan :
1) Bachelor of Sciences in Physics equiv UH, USA
2) Master of Library Studies, GSLS UH, USA
Dari pidato kepustakawanan yang berjudul “Memaknai dokumentasi” yang dibawakan pada tanggal 28 Februari 2013 sebagai memori akhir masa tugasnya, saya mengetahui bahwa sesungguhnya dunia kepustakawanan bukanlah cita-cita dari Sarjana Muda Ilmu Fisika FIPA UGM ini. Kegalauan-kegalauan pun pernah dialaminya sebelum akhirnya memilih dunia kepustakawanan sebagai panggilan hidupnya. Wawancara dengan Direktur PDIN saat itu, Ibu Luwarsih Pringgoadisurjo, M.A. membuat dirinya merasa dibutuhkan dan memiliki harapan dalam bidang kepustakawanan. Hal ini akhirnya membawa Pak Dar memulai tugasnya pada tanggal 1 Agustus 1973 di Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional. Dalam masa-masa tugasnya sebagai pustakawan, Pak Dar melanjutkan studinya di bidang ilmu perpustakaan, menghasilkan tulisan-tulisan, berkarya dalam dunia kepustakawanan, serta berbagi ilmunya kepada orang lain. Kini, Pak Dar dikenal sebagai salah satu begawan kepustakawanan Indonesia. Penghargaan Live Time Achievement pun diberikan kepadanya dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2013.
Secara pribadi, saya mengenal Pak Dar sebagai sosok yang mengayomi, ramah, bijaksana, juga narsis dan belagu. Diskusi-diskusi bersama Pak Dar akan banyak membahas mengenai “Why to do” ketimbang “How to do”. Meskipun dirinya sering mengatakan “I am just a simple librarian” nyatanya memahami jalan pikir Pak Dar bukanlah hal yang simple. Bagi Pak Dar, hidup itu harus dijalani, dinikmati, namun tetap bereksperimentasi.

“Kiranya kita perlu menjalani hidup di antara dua ujung yang bukan rencana kita itu dengan ikhlas, berusaha memahami, menyenangi, serta mengembangkannya, agar hidup kita menjadi bermakna bagi sesama manusia. Demikian juga hidup yang saya jalani sebagai pustakawan selama ini. Saya berusaha menerima secara ikhlas, juga berusaha memahami, menyenangi, dan mengembangkannya. Pada gilirannya juga mengupayakan agar bermanfaat bagi nilai kemanusiaan. Selama ini saya hidup dalam rumah pustaka, bernafas dalam udara rumah itu, menjaga rumah itu, dan mendapatkan nafkah hidup juga karena tugas itu.” (Sudarsono, 2013:5-6)

Sebagai pustakawan Pak Dar memiliki kepedulian yang besar terhadap dunia kepustakawanan Indonesia. Oleh sebab itu, setelah menjadi pensiunan pustakawan pun Pak Dar lebih senang disebut sebagai Pemerhati Kepustakawanan Indonesia. Menurutnya, profesi pustakawan di Indonesia masih dalam keadaaan belum beruntung namun pustakawan tidak boleh pasrah.

“Pustakawan sebagai profesi harus benar mampu menunjukkan kinerjanya dan mutu kerjanya. Oleh karena itu kompetensi dasar yang telah diperoleh dari pendidikan harus selalu ditingkatkan melalui kesadaran pribadi melakukan Continuing Professional Development (CPD), atau Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB).” (Sudarsono, 2012:119)

Dalam beberapa kesempatan, saya sempat bertemu dan berdiskusi dengan Pak Dar. Berikut ini salah satu perbincangan saya dengan Pak Dar mengenai dirinya:
T: Dahulu kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan bagaimana ceritanya Pak?
J: Saya masuk sekolah perpustakaan karena ditugaskan lembaga tempat kerja saya Pusat Dokementasi Ilmiah Nasional (sekarang PDII-LIPI)

T: Ada kenangan khusus waktu kuliah dahulu?
J: Kenangan khusus waktu kuliah adalah di GSLS UH, USA menjadi masa kuliah yang paling menyenangkan. Buat saya, ternyata studi perpustakaan tidak sesukar Ilmu Fisika.

T: Bagaimana cerita kiprah Anda dalam dunia perpustakaan?
J: Awalnya saya itu “terpaksa”, namun saya sadar bahwa kenyataanya saya bekerja dalam dunia dokumentasi (perpustakaan). Saya hanya ingin membuktikan (menunjukkan) kemampuan diri saya saja. Jika sebelumnya saya bekerja di laboratorium fisika dasar saya bisa, masa saya bekerja di perpustakaan tidak bisa?
Saya memang direkrut PDIN untuk menyiapkan komputerisasi PDIN. Saya mulai belajar pemrograman FORTRAN IV pada tahun 1974 di ITB. Ironinya walaupun saya menguasai permasalahan komputer pada waktu itu, PDIN belum mampu memiliki komputer. Pengetahuan komputer saya, bertambah saat belajar di USA. Saya melakukan studi banding atas 15 instalasi komputer terbesar di USA antara lain : Univ California Berkeley, Stanford University, IBM Palo Alto Research Center, University of Chicago, John Crerar Library, OCLC, Chemical Abstracts, Batelle Memorial Laboratory, Library of Congress, National Library of Medicine, National Library of Agriculture, Engineering Society Library, New York Public Library, dan United Nations Library and Documentation Center.
Sekembali di Indonesia pada Tahun 1979, ternyata PDIN juga belum mampu mengadakan peralatan komputer. Dengan kemampuan saya di bidang komputer, sebenarnya saya dibujuk teman yang menjadi salah satu Direktur di IBM Indonesia untuk bergabung di IBM Indonesia. Hanya karena saya tidak mau disebut sebagai tidak bertanggungjawab maka saya tetap di PDIN.
PDIN baru bisa mengadakan Komputer HP 3000/40 pada Tahun 1983. Itu adalah komputer klas mini (bukan main frame). Komputer PC belum ada. Itu adalah instalasi komputer untuk pekerjaan dokumentasi yang pertama di Indonesia. Sejak itu saya memimpin program komputerisasi di PDIN. Ikut memikirkan konsep Ipteknet yang dicetuskan oleh Ibu Luwarsih pada 1986. Ipteknet menjadi salah satu awal pembangunan jaringan komputer di Indonesia sebelum merebaknya Internet.
Puncak pencapaian program komputerisasi di PDI-LIPI adalah ekspose (pemaparan) sistem yang kami bangun kepada Kepala Negara (Waktu itu Presiden Suharto). Ekspose itu dilakukan dalam rangka peresmian Gedung Perpustakaan Nasional Salemba. Saya perlihatkan kepada presiden bagaimana akses melalui jaringan telepon dari Perpustakaan Nasional di Salemba ke Pusat Komputer PDII-LIPI Jalan Gatot Subroto. Oleh Ibu Mastini (Kepala Perpustakaan Nasional yang pertama) disampaikan kepada Presiden bahwa Perpustakaan Nasional juga memerlukan komputer dan mohon ijin untuk pengadaannya. Jika tidak salah ini terjadi pada Tahun 1989.
Tahun 1990, saat saya berusia 42 tahun, saya menggantikan Ibu Luwarsih Ringgoadisurjo sebagai Kepala PDII-LIPI sampai Tahun 2001. Dalam menjalankan kepemimpinan inilah saya kemudian tidak lagi terlibat pada pekerjaan teknis. Saya mulai lebih memikirkan pada tataran kebijakan nasional maupun relasinya dengan internasional di bidang dokumentasi, perpustakaan dan jasa informasi. Meski pertanyaan tentang filsafat kepustakawanan telah saya lontarkan sejak 1988, dan pertama kali secara resmi pada Rapat Kerja IPI di Semarang 1991, namun saya baru bisa memulai Mata Kuliah Filsafat Kepustakawanan justru di Unpad untuk program magiter baru pada 2003.
Tahun 2001 sampai sekarang saya tetap sebagai pustakawan, dengan pencapaian puncak adalah dalam Jabatan Pustakawan Utama, Pangkat Pembina Utama, Golongan IVe. Selanjutnya saya kan lebih senang disebut sebagai pemerhati kepustakawanan Indonesia. Membangun dan mengembangkan kelompok studi Kappa Sigma Kappa INDONESIA.

T: Visi atau pencapaian ke depannya apa Pak? untuk pribadi maupun pekerjaan
J: Visi ke depan? Suatu saat nanti jika orang mendengar atau menyebut kata “pustakawan” dalam benak mereka terpola kesetaraan dengan kata “budayawan”
T: Bagaimana peran keluarga dalam karir Anda?
J: Keluarga sangat membantu dan memberi kebebasan bagai saya untuk berpikir kritis dan logis.
T: Siapa saja orang-orang yang menginspirasi Anda selama ini?
J: Sukar untuk menyebutnya secara khusus. Inspirasi bagi saya dapat timbul dari lingkungan baik alam maupun manusianya.

Kecintaan Pak Dar terhadap dunia kepustakawanan Indonesia tetap terjaga walau sudah purna tugas. Sebagai pustakawan generasi muda, kita perlu belajar dari semangat dan sikap kritis yang dimilikinya. Seperti yang Pak Dar percayai dan jalani “hidup itu harus dijalani, dinikmati, namun tetap bereksperimentasi.”

Daftar Pustaka

Sudarsono, Blasius dan Rahmawati, Ratih. 2012. Perpustakaan untuk rakyat: dialog anak dan bapak. Jakarta: Sagung Seto.

Sudarsono, Blasius. 2013. Memaknai Dokumentasi: Pidato Kepustakawanan. Jakarta: PDII-LIPI