Perpustakaan Anda sepi? Ingin Ramai? Ya DIBAKAR Saja..

Perpustakaan yang sekarang Saya kelola ini belum banyak pengunjungnya…. Bagaimana cara / program apa yg bisa menarik banyak pengunjung?
Mohon saranya terimakasih – Diambil dari sebuah forum
———————————————————————–
Sebuah Cangkeman (Dialog Ngawur) antara admin dan Kolordwijo:

Jadi Perpustakaan Anda tidak ada Pemustaka/Pengguna Perpustakaannya?
Kolordwijo “Rasain…”
Setiap hari Sepi? Angker?
Kolordwijo “Hiii…. Serem… ada sodako duduk dimeja bertuliskan PUSTAKAWAN”
Mau Perpustakaan Anda ramai?
Kolordwijo “Piye carane Mas Bro?”

Tips Murah meriahnya: Ya Dibakar Saja biar banyak yang mengunjungi. langsung deh rame, ada blamwir, ada pengunjung yg mau wisata musibah, ada media yang ngeliput. wis pokoke rame. makin besar apinya makin ramai…

Kolordwijo “GILA LO NDRO? KEBAKARAN ITU MAH…”
Ya terkadang kita harus melakukan hal gila untuk dapat hasil yang maksimal. Eits tapi jangan salah sangka dlu Jo, “Dibakar” yang saya maksud yaitu dengan menggunakan terminologi “Kebakaran”.
Kolordwijo “Sotoy mode on ente Mas Bro, apa pulak itu terminologi. awak taunya terminal Pulo Gadung cok”
Kebakaran menjadi hal yang menarik buat masyarakat. Setiap ada kebakaran pasti jadi rame. Salah satu hal yang membuat ramai karena “kebakaran itu jarang terjadi”. Ini momen UNIK Jo. Karena Keunikan inilah, banyak masyarakat justru malah “wisata musibah”.
Kolordwijo “Iya ya, cuma dikampung ane aja yang ada wisata musibah. Musibah kok ditontonin bukannya ditolongin. Asus tenan… (merek laptop)”
Jadi kalau mau perpustakaannya Ramai harus ada Keunikan yang dimiliki perpustakaan tersebut. Misalnya apa coba Jo?
Kolordwijo menjawab “pustakawannya unik kaya sinetron cecep yang diperankan anjasmara dulu pak guru *pake gaya unyu anak sekolahan..
Hush ngawur koe Jo, itu sih cacad namanya.
Kolordwijo “yaa terkadang cacad dan unik itu bias Mas Bro. Kalo orangnya jelek dibilang cacad, kalo cakep dibilang unik. Sama kayak kalo pendiem+ganteng dibilang Cool, kalo pendiem+jelek dibilang Kuper. Bias kan?”
Jangan curhat deh Jo…..
Misalnya: Koleksi Indigeneous/Gray Literature
Kolordwijo “Gay Literature? *mimisan”
Gray pacul…. Gray bukan Gay…. Maho Semprul
Kolordwijo “Owh… Gray Literature itu apa?”
Ah ente kelamaan menghuni Jurusan Ilmu Perpustakaan cuma ngeliatin dosen-dosen dan mahasiswi cantik aja sih Jo… Kurang lebihnya Gray Literature itu koleksi-koleksi yang yang tidak diterbitkan dan cuma kita yang punya, contohnya …
Kolordwijo “Koleksi foto alay dan foto bugil ane… Plus Tanda tangan, siapa mau?”
Hueeek…… Contohnya Koleksi Skripsi/Tugas Akhir di Universitas, Koleksi Naskah Kuno di Perpusda, dll.
Kolordwijo “Owh…. Jadi kalo ilang/rusak gak bisa/susah gantinya dong, kayak arsip aja ya…”
Tumben Bener, kurang lebih gitu deh. Ni sumber-sumber lainnya:
Gray literature merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut jenis-jenis koleksi yang tidak diterbitkan secara umum atau koleksi yang sangat mungkin tidak bisa kita temukan di toko-toko buku.– Aziz, Abdul Wahid

Gray Literature merupakan literatur penting tetapi tidak dipublikasikan scr resmi (semi publikasi) dan tidak dikomersilkan, shg dokumen ini sukar didapatkan secara bebas (prosiding seminar, laporan penelitian, skripsi, disertasi, theses, naskah kerjasama, makalah pertemuan, brosur/leaflet) – Nurjanah, Yuni

Kalau punya Gray literatur, kita punya nilai Plus untuk bisa menjalin kerjasama/ membentuk Jaringan Perpustakaan.
Kolordwijo “Ho’oh, kalau perpustakaanku duwe koleksi porno paling lengkap pasti akeh pustakawan sing podo gelem kerjasama”
Pustakawan mesum koe Jo…. Pokoke harus punya keunikan. Ayo coba cari dimana keunikan perpustakaan kamu?

Kolordwijo “Lha terus Blamwir karo Media Massa sing ngeliput itu apa hubungannya Mas Bro?”
Blamwir itu kan meriah. Kalo dijalan berisik ngiung…ngiung…ngiung… gitu tho Jo? Jadi kita tu harus bikin perpustakaan semeriah mungkin.
Kolordwijo “Pake lampu disko Mas Bro. eeee… Bumi Gonjang-Ganjing, Langit Kelap-Kelip, Musik Jedag-Jedug. Ajeb.. Ajeb… Ajeb.. Ajeb….”
-_-” Ya Nggak Perlu Jo. Bisa pake Warna cat yang meriah. Kayak MBRC-UI tempat aku partime dulu waktu masih kuliah.
Kolordwijo “Waktu jadi anak buahe Pak Purwono sing Jago Penelusuran Informasi kui?”
Ho’oh… Perpustakaan MBRC-UI warnanya meriah. Merah, Oranye, Kuning… Wah pokoknya bikin semangat pemustakanya.
Kolordwijo “Kok jadi kayak TK ya…”
Kolordwijo “Lha Media Massa sing ngeliput kae kanggo opo?”
Media Massa itu kita ibaratkan promosi Jo. Jadi harus Sounding. Biar orang-orang pada tahu ada apa aja di perpustakaan kita. Tidak perlu mahal-mahal masuk tv yang penting promosinya konsisten. Bisa lewat sosial media (FaceBook, Twitter, dll.), Email, Brosur, Poster, Pameran, Dll.
Kolordwijo “Pasang Spanduk gede saingan sama PEMILU PILKADAL JAGO GOMBAL wae..”
Kolordwijo “Jangan Pilih saya, Karena saya Pustakawan bukan calon Gubernur. Hehehehe… ”
Kolordwijo “kalo gitu Mas Bro, sekalian aja perpustakaannya iklanin di tv, kasih fasilitas kolem renang, mini theater, koleksi braile, SPA, Lapangan futsal, Kegiatan dongeng anak, WiMax, cafe, fitness center, bagi-bagi sembako gratis, jadi tempat resepsi, sunatan masal, dll”
Bisa aja. Emang ada budget-nya?
Kolordwijo “Ora ene budget Mas Bro, wong perpustakaane kere, piye?”
Ya sebelum “membakar” perpustakaan kita harus punya rencana dulu Jo.
Dilihat kondisi perpustakaannya (visi, misi, koleksi, dana, dll.). Lalu kira-kira perpustakaannya mau dijadikan seperti apa? memposisikan diri sebagai perpustakaan yang seperti apa?
Kolordwijo “Positioning gitu ya Mas Bro?”
Kolordwijo “Lho kok penjelasan Mas Bro mirip teori PDB ya? Positioning, Differentiation, Branding”

Lha emang saya comot dari teori itu kok Jo:
Sebelum “membakar” perpustakaan bikin rencana biar tidak salah bakar = Positioning
Mencari keunikan perpustakaan = Differentiation
Blamwir + Media Massa = Branding

Kolordwijo “Wah kenapa ora njelasin PDB sekalian aja Mas Bro?”
Wah, Kalau itu pembaca-pembaca disini sudah lebih pinter Jo..
Kolordwijo “Wah Mas Bro ini pasti perpustakaannya ramai banget ya..”
Enggak juga Jo. Lha wong belum praktek, Baru Teori..
Kolordwijo “Asem sampean Mas Bro, NATO!!!” “No Action Talk Only”
#Jleb……..
*Admin ngorek-korek tanah

Refrensi Cangkeman:
Aziz, Abdul Wahid. what is the meaning of gray literature?. http://celotehaziz.blogdetik.com/tag/gray-literature/
Nurjanah, Yuni. Dokumen Nontekstual, Tekstual, Gray Literature, dan Pengawasan Bibliografi. http://yuni-nurjanah.blog.undip.ac.id/files/2010/08/Dokumen-Nontekstual-Tekstual-Gray-Literature-dan-Pengawasan-Bibliografi.pdf
(Pak Rambat). Bahan Mata Kuliah Kewirausahaan FE-UI. Tidak diterbitkan. UI: 2009